Muhasabah Diri Jelang Akhir Tahun Cetak
Ditulis oleh Dr. dr. HR. Danarto, Sp.B SpU(K)   
Senin, 29 Desember 2025 10:03

Muhasabah Diri Jelang Akhir Tahun 

 

   Apa yang kita perhatikan dalam Muhasabah Diri Jelang Akhir Tahun. Penghujung tahun merupakan momen tepat untuk melakukan introspeksi dan refleksi diri. 
Melalui muhasabah, kita dapat merenungkan amalan dan perbuatan kita sepanjang tahun, bersyukur atas kebaikan, dan memohon ampun atas dosa dan khilaf. 
Muhasabah diri, atau introspeksi diri, merupakan proses penting dalam kehidupan manusia, khususnya bagi umat Islam. 
   Melalui muhasabah diri, kita dapat mengevaluasi diri sendiri, merenungkan perbuatan dan sikap yang telah dilakukan, serta mempertimbangkan bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. 
   Secara bahasa, muhasabah berasal dari kata Arab "hisab" yang berarti menghitung atau menghisab. 
   Dalam konteks muhasabah diri, hal ini berarti menghitung atau menghisab diri sendiri, baik perbuatan maupun sikap yang telah dilakukan. 
   Sedangkan secara istilah, muhasabah diri diartikan sebagai proses introspeksi atau evaluasi diri untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan, serta melakukan koreksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 
   Muhasabah diri bukan hanya tentang menemukan kesalahan, tetapi juga tentang mensyukuri kebaikan dan meningkatkan kualitas diri secara keseluruhan. 
  
Berikut penjelasannya. 

1. Surat al-Hasyar ayat 18 
Ayat ini menekankan pentingnya introspeksi diri dan kesadaran akan tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. 
Allah mengingatkan umat Islam untuk selalu bertakwa dan memperhatikan perbuatan mereka sebagai persiapan menghadapi hari akhirat. 
Artinya: 
    "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." 
Syekh Nawawi Banten dalam Tafsir Marah Labib, Jilid II, mengatakan ayat ini menekankan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri, di mana setiap individu dianjurkan untuk merenungkan apa yang telah mereka persiapkan untuk hari esok, yaitu Hari Kiamat. 

Ini mencakup perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan, karena setiap tindakan akan diperhitungkan di akhirat. 
Dengan memperhatikan masa depan yang abadi ini, seseorang akan lebih terdorong untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal yang baik melalui amal saleh dan menjauhi maksiat. 
Selain itu, ayat ini juga mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang kita kerjakan, baik itu perbuatan baik atau buruk. 
Tidak ada satu pun amal yang luput dari pengawasan-Nya. 

Oleh karena itu, ayat ini mengajak kita untuk merasa malu dan segan terhadap Allah ketika hendak melakukan perbuatan dosa, karena semuanya terlihat dan terdengar oleh-Nya. 
Melalui kesadaran ini, kita diharapkan dapat meningkatkan kualitas ibadah dan amal perbuatan kita, serta senantiasa bertakwa dengan melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. 

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dalam segala yang kalian lakukan dan yang kalian tinggalkan. 
Dan hendaklah setiap jiwa, baik yang berbuat kebaikan maupun yang berbuat kejahatan, memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok (hari kiamat), yaitu apa yang ingin dicapainya pada hari kiamat, maka lakukanlah. Dan bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban dan meninggalkan maksiat. 

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan, baik kebaikan maupun keburukan. Tidak ada satu pun amal yang kalian kerjakan kecuali itu terlihat oleh-Nya dan terdengar oleh-Nya. Maka, malulah kepada-Nya." [Syekh Nawawi Banten, Tafsir Marah Labib, Jilid II, halaman 513].

 

2. Surat At-Taubah ayat 126 
Ayat ini menggunakan metafora cermin untuk menggambarkan hati manusia. Hati yang bersih bagaikan cermin yang jernih, mampu memantulkan cahaya kebenaran dan kebaikan. 
Sebaliknya, hati yang kotor bagaikan cermin yang berlumuran debu, sehingga tidak mampu mencerminkan apa pun. 
Introspeksi diri diibaratkan sebagai proses membersihkan cermin hati. 

Kita perlu secara berkala merenungkan perbuatan, perkataan, dan pikiran kita. Dengan begitu, kita dapat melihat kekurangan dan kesalahan kita, dan berusaha memperbaikinya. Perhatikan Ayat Allah dalam QS At Taubah : 126.

Artinya:
"Tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, tetapi mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pelajaran." Al-Wahidi, dalam Tafsir Al-Basith, Jilid XI, halaman 100 menjelaskan bahwa surah At Taubah ayat 126 menjadi pengingat keras bagi seorang Muslim tentang pentingnya muhasabah diri atau introspeksi. 
Ayat ini mencela sikap orang-orang munafik yang diuji setiap tahun dengan berbagai cobaan, namun tetap tidak mau bertobat dan mengambil pelajaran. Cobaan dan pengalaman pahit yang mereka alami seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat iman dan membedakan mana yang benar dan salah. 

Seharusnya, mereka tersadar bahwa Rasulullah Muhammad adalah utusan Allah yang benar. Namun, hati mereka semakin sesat dan ingkar. 
Sikap orang-orang munafik ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Kita haruslah selalu introspeksi diri atas setiap kejadian yang menimpa. 
Apakah kejadian itu membuat kita semakin dekat dengan Allah atau justru menjauhkan kita? 
Apakah kita semakin bersyukur atau justru semakin kufur? 

Muhasabah diri yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas akan membawa kita kepada jalan yang benar. 
Kita akan semakin dekat dengan Allah dan terhindar dari kemurtadangan. Sejatinya, 
Allah selalu memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. 

Simak penjelasan 
"Makna dari ayat ini adalah: 
Bahwa orang-orang mukmin diingatkan tentang sikap berpalingnya orang-orang munafik dari merenungkan dan memperhatikan hal-hal yang seharusnya mereka perhatikan (2) dan renungkan." [Al-Wahidi, Tafsir Al-Basith, Jilid XI, [Saudi: Imadah al Bahst al-'Alami, 1430], halaman 100].

 

3. Surat An-Nur ayat 34 
Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan kembali apa yang telah kita capai dalam hidup ini. 
Apakah kita telah menggunakan waktu dan kesempatan kita dengan sebaik-baiknya? 
Apakah kita telah melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain? 

 "Sungguh, Kami benar-benar telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penjelasan, contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." Ahmad bin Muhammad Sa'labi dalam Al-Kasyf wal bayan an Tafsir Al-Qur'an, Jilid XIV, halaman 140 menjelaskan bahwa Surat An Nur ayat 27 berbicara tentang pentingnya introspeksi diri. 
Allah SWT telah menurunkan ayat-ayat yang jelas untuk membedakan halal dan haram, serta memberikan perumpamaan dari orang-orang terdahulu yang mendustakan ayat-ayat Allah. 
Hal ini dimaksudkan sebagai peringatan bagi umat manusia agar tidak terjerumus ke dalam dosa dan keburukan. 

Lebih lanjut, ayat ini juga menjadi nasihat bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjauhi kemusyrikan dan dosa-dosa besar. 
Intropeksi diri penting dilakukan untuk memastikan diri berada di jalan yang benar dan terhindar dari perbuatan tercela. 
Dengan merenungkan perbuatan dan hati, kita dapat menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT dan meningkatkan keimanan.
  
"Dan sungguh, Kami telah menurunkan kepada kalian ayat-ayat yang menjelaskan, tentang yang halal dan yang haram, dan sebuah perumpamaan dari orang-orang yang telah berlalu sebelum kalian, yaitu keadaan kalian mirip dengan keadaan mereka wahai para pendusta, dan ini adalah peringatan bagi mereka agar mereka tidak tertimpa apa yang menimpa orang-orang yang mendustakan sebelumnya, dan sebagai nasihat bagi orang-orang yang bertakwa, bagi orang-orang beriman yang menjauhi kemusyrikan dan dosa-dosa besar." [Abu Muhammad al-Baghawi, Tafsir Baghawi, Jilid III, [Beirut: Darul Tutrats Al-Arabi, 1420 H] halaman 415].
  

Tazkiyatul Nafs

Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) menurut Imam Al-Ghazali adalah proses membersihkan hati dari sifat tercela (seperti kebuasan dan kebinatangan) dan menghiasinya dengan sifat terpuji (seperti ikhlas, sabar, dan tawakal) untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencapai jiwa yang tenang (nafs muthmainnah), yang dilakukan melalui tahapan takhalli (membersihkan), tahalli (menghias), dan tajalli (pencerahan Ilahi), dengan mengendalikan nafsu melalui praktik spiritual seperti sedikit makan, sedikit tidur, dan mengendalikan bicara. Ini adalah perjalanan spiritual kunci untuk kebahagiaan dunia akhirat, terutama melalui kitabnya Ihya' Ulumuddin. 

Konsep tazkiyah al-nafs adalah konsep penyucian jiwa dalam Islam. Sejatinya, konsep tazkiyah al-nafs bertujuan untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk dan menumbuhkan sifat-sifat baik. Dengan demikian, jiwa manusia akan menjadi suci dan terbebas dari segala penyakit hati. 

Dalam ilmu Tasawuf kata nafs memiliki beberapa arti yaitu pertama, nafs adalah pribadi atau diri dalam susunan nafsio fisik (psiko fisik) bukan merupakan dua dimensi yang terpisah. Kedua, nafs diartikan sebagai kesadaran atau prikemanusiaan. Maksudnya segala macam kegelisahan, ketenangan, sakit dan sebagainya hanya diri sendirilah yang merasakan, dan belum tentu terekspresikan melalui fisik. Orang lain hanya dapat membayangkan apa yang dirasakan oleh aku internal.

Ketiga, nafs dapat diartikan sebagai spesies (sesama jenis). Keempat, nafs diartikan sebagai keinginan, dan nafsu-nafsu. Dengan kata lain, nafs merupakan daya penggerak yang membangkitkan aktivitas dalam diri manusia dan memotori tingkah laku serta menuntunnya pada suatu tujuan.

Dari sini sudah jelas bahwa nafs sangat berperan penting dalam melakukan pergerakkan yang membangkitkan suatu kegiatan atau perbuatan diri manusia. Sehingga, teraturnya segala tingkah laku serta dapat mengarahkan manusia pada suatu tujuan yaitu, memiliki jiwa yang berakhlak mulia.

Berbeda dengan Al-Ghazali yang mengklasifikasikan nafs atau jiwa menjadi beberapa macam.Pertama, nafs al-ammarah, yaitu jiwa yang membantah bahkan patuh terhadap syahwatnya atau patuh kepada ajakan-ajakan syaitan (jiwa yang membujuk seseorang untuk berperilaku buruk). Maksudnya adalah, nafsu yang selalu mengajak seseorang pada kejahatan, sehingga nafsu ini digambarkan sebagai kawah keburukan di dalam jasad dan sarang segala kerusakan dan kejahatan.

Kedua, nafs al-lawwamah, yaitu jiwa yang dimiliki oleh seseorang dalam kondisi belum hidup tenang, tetapi sudah berupaya menolak nafsu syahwatnya. Maksudnya adalah nafsu yang selalu mengecam pemiliknya, ketika si pemilik nafsu ini terperosok ke dalam kenistaan, nafsu ini akan langsung bereaksi mengecam si pemilik sembari menyesali kekurangannya dalam menjalankan hak Allah Swt.
Ketiga, nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang), yaitu jiwa yang dimiliki oleh orang dalam kondisi tenang dan mampu menepikan kesedihannya dalam menolak kehendak syahwatnya. Nafsu ini lebih mulia dan lebih dicintai oleh Allah Swt. dari pada Ka’bah, karena menjadi tempat menetap keimanan di bumi. Ia adalah nafsu yang khusyu’, nafsu yang bertawakal kepada Allah, nafsu yang percaya penuh pada Allah, nafsu yang mencintai Allah. Dekat dengan-Nya, dan selalu merindukan-Nya.

Sementara itu, al-Qur’an menerangkan berbagai macam nafs dari sudut tingkatan-tingkatan. Tingkatan itu adalah nafs ammarah, nafs lawwamah dan nafs muthmainnah. Berdasarkan susunan kalimat dalam ayat yang menuturkan istilah nafs ammarah, dapat disimpulkan bahwa ada dua kemungkinan yang terjadi pada nafs.

Kemungkinan pertama, bahwa nafs mendorong kepada perbuatan tercela. Kemungkinan kedua, nafs mendapat rahmat. Itu sebabnya, kemungkinan pertama bahwa nafs mendorong kepada perbuatan tercela ini yang disebut dengan nafsu, dan kemungkinan kedua nafs yang mendapat rahmat ini yang disebut sufi dengan nafsu marhammah.

Nafs dalam literatur tasawuf

Lebih jelasnya, dalam literatur tasawuf, nafs (nafsu) ada delapan kriteria dari kecenderungan yang paling dekat dengan keburukan sampai yang paling dekat dengan ilahi. Pertama, nafs ammarah bi al-su’, yaitu potensi dorongan hati, selaras dengan nafsu yang condong kepada keburukan. Ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:
Artinya: “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yusuf [12]:53).

Kedua, nafs lawwamah, yaitu nafsu yang sudah memiliki ketersediaan serta menyesali dirinya setelah membuat kesalahan. Ketiga, nafs musawwalah, yaitu nafsu yang dapat membedakan antara yang baik dan buruk tetapi, baginya melakukan yang keburukan sama halnya melakukan kebaikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:
Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah [2]:42).
Keempat, nafs muthmainnah, yaitu nafsu yang telah memperoleh tuntunan serta pemeliharaan kepada yang baik. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:
Artinya: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr [89]: 28).

Kelima, nafs mulhamah, yaitu nafsu yang mendapat petunjuk dari Allah serta dianugerahi ilmu pengetahuan. Pada tingkat ini nafsu sudah terbuka dengan bermacam petunjuk dari Allah. Nafsu pada tingkat ini dijelaskan dalam al-Qur’an:

Artinya: “(yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. Dan (terhadap) kaum Samud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar). Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.” (QS. Al-Fajr [89]: 7-11).
Keenam, nafs mardliyah, yaitu nafs yang menggapai ridha Allah. Indikasinya tampak pada kesibukan berdzikir, ikhlas, memiliki karamah serta mendapat kemuliaan yang menyeluruh:
Artinya: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr [89]: 28).

Ketujuh, nafs radliyah, yaitu nafsu yang ridha kepada Allah Swt. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim [14]:7).

Delepan, nafs kamilah, yaitu nafsu yang sudah sempurna bentuk dan dasarnya telah cukup untuk melaksanakan petunjuk serta menyempurnakan penghambaan diri kepada Allah Swt.
Lalu bagaimana konsep Tazkiyah Al-Nafs

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali mengemukakan konsep tazkiyah al-nafs secara mendalam dalam pembahasan tentang latihan jiwa, tahdzibul akhlak dan pengobatan hati. Penyakit jiwa harus dipelajari dan diobati, karena setiap hati memiliki penyakit yang jika dibiarkan akan selalu bermunculan. Karena itu, penyakit jiwa harus diketahui sebabnya, diobati dan diperbaiki.
Pertama, dengan kurnia Ilahi dan sempurnanya fithrah (kejadian), dimana manusia itu dijadikan dan dilahirkan dengan akal yang sempurna, akhlak yang baik, yang mencukupkan kekuasaan nafsu-syahwat dan amarah. Bahkan nafsu-syahwat dan amarah itu dijadikan lurus, patuh kepada akal dan Agama.

Kedua, akhlak tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riadlah. Kami maksudkan: membawa diri kepada perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak yang dimaksud. Siapa yang bermaksud supaya dirinya memperoleh akhlak kemurahan, maka jalannya adalah memberatkan diri melakukan perbuatan orang yang pemurah, yaitu: memberikan harta.
Lalu ia senantiasa menuntut dirinya dan membiasakannya, memperjuangkan dirinya pada yang demikian. Sehingga sifat tersebut menjadi tabiatnya. Mudah ia melakukannya, lalu a menjadi seorang pemurah.

Begitu pula, siapa yang ingin berhasil untuk dirinya akhlak tawadlu’ (rendah hati, tidak menyombong), maka jalannya, adalah membiasakan diri dalam waktu yang cukup lama, kepada perbuatan orang-orang yang rendah hati. Memperjuangkan dirinya dan memaksakannya, sehingga akhlak tersebut menjadi akhlaknya dan tabiatnya.

Akhlak keagamaan pada diri seseorang, tidak akan melekat, selama tidak dibiasakan dengan adat kebiasaan yang baik, dan selama tidak dìtinggalkan semua perbuatan yang jelek. Selama tidak dibiasakan, sebagaimana yang dibiasakan oleh orang yang rindu kepada perbuatan-perbuatan yang baik. Ia merasa nikmat dengan perbuatan-perbuatan yang baik, benci kepada perbuatan-perbuatan yang keji dan merasa tidak enak dengan perbuatan-perbuatan tersebut.

Cara kedua yang dilakukan adalah melalui mujahadah, riadlah dan pembiasaan. Mujahadah merupakan metode pendidikan akhlak yang mengharuskan peserta didik untuk bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsunya, dan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, sehingga faidah ilmu sebagai cahaya (nur) dapat menetap dalam hatinya.
Mujahadah adalah perjuangan batin, sebuah elan (semangat) yang penuh dengan kesungguhan (jihad) dan terus menerus mengetuk kalbu, agar mempertahankan cahaya Ilahi yang bersemayam di dalamqalbu sehingga tidak perangkap oleh jerat setan.

Mujahadah lebih menukik ke dalam, untuk mendapatkan pengetahuan hakiki (makrifat), sehingga dirinya senantiasa mendapatkan dan berada di atas jalan yang sesuai dengan petunjuk cahaya kebenaran.
Mujahadah dalam konteks tazkiyah al-nafs dilakukan agar mampu mempertahankan diri dari dorongan-dorongan negatif yang timbul dari godaan hawa nafsu. Melalui mujahadah, seseorang dapat menemukan hakikat kebenaran, karena pengetahuan yang diperolehnya sudah terpisah dari kepalsuan hawa nafsu yang dapat menutupi kebenaran itu sendiri. Mujahadah sebagai metode menghubungkan antara pengetahuan sebagai teori dengan perilaku dan akhlak mulia sebagai buah dari usaha memerangi hawa nafsu.

Demikian penjelasan terkait memahami konsep tazkiyah al-nafs menurut Imam Ghazali. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa berusaha membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk dan menumbuhkan sifat-sifat baik. Wallahu a’lam bisshawaab.