Info Rujukan


>> CARA MERUJUK <<

Ketersediaan Bed

NEW !!

urodinamik
ESWL

Alat Terapi non-Bedah

Alat Diagnosis

Penunjang Medis




Kebaikan itu untuk Dirimu Sendiri, Begitu Juga Keburukanmu PDF Cetak Email
Ditulis oleh Unit Kerohanian   
Rabu, 20 Mei 2020 13:46


"Inn ahsantum ahsantum lianfusikum, wa in asa’tum falahaa..."


Potongan surat Al-Isra’ ayat 7 tersebut mempunyai arti, “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat keburukan berarti keburukan itu bagi dirimu sendiri...”

Makna yang tersirat di dalamnya adalah bahwa ketika kita berbuat baik, itu artinya kita sedang berbuat baik untuk diri sendiri. Melakukan amalan-amalan baik untuk diri sendiri, menjalankan perbuatan mulia untuk diri sendiri, melakukan sesuatu yang baik dan sesuatu yang baik itu untuk diri kita sendiri.

Mengapa demikian? Sebab Allah tidak membutuhkan amalan-amalan baik tersebut. Yang membutuhkannya adalah diri kita sendiri. Sebagai contoh, kita berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, kebaikannya akan kembali kepada diri kita sendiri, keutamaan yang kita dapatkan akan kembali kepada diri kita, bukan kepada Allah apalagi sesama manusia.

Kita menjalankan shalat tahajud setiap hari di sepertiga malam terakhir, dengan penuh pengorbanan harus bangun saat orang-orang yang lain tengah terlelap. Lantas, siapa yang akan mendapatkan kebaikan, kita yang menjalankan salat tahajud atau mereka yang terlelap dalam mimpi? Tentu saja kita yang menjalankan shalat tahajud lah yang akan mendapatkan keutamaan dari Allah, doa-doanya tidak hanya didengar oleh Allah, melainkan dikabulkan oleh Allah SWT.

Sebagaimana dalam surat Ar-Rahman ayat 60 disebutkan; bahwa tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan pula.

Demikian juga, keburukan yang kita perbuat, pasti akan berbalik akibatnya kepada kita sendiri. Oleh karena itu, ketika ada keburukan menimpa diri kita, tidak boleh menyalahkan siapapun kecuali menyalahkan diri sendiri. Boleh jadi ada dosa yang belum kita taubati, boleh jadi ada keburukan kita kepada orang lain dan belum kita meminta maaf kepadanya dan belum memohon ampun kepada Alloh Swt.

Prinsip ini semestinya bisa menjadi pegangan bagi kita bahwa jika kita melakukan keburukan, maka sesungguhnya kita sedang menimpakan keburukan kepada diri kita sendiri. Jika hal ini kita yakini, maka kita akan berpikir sekian ribu kali untuk berbuat buruk. Dan yang terbaik adalah manakala kita akhirnya terhindar, selamat dari perbuatan buruk kita sendiri.

Sesungguhnya janji Alloh itu pasti benar. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapat petunjuk Alloh sehingga kita menjadi orang-orang yang selamat di dalam hidup kita dan Semoga kita semua tidak pernah bosan untuk melakukan amalan-amalan baik. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

 

Add comment


Security code
Refresh